Untuk kesekian kalinya, karya “fiksi” dianggap membahayakan moralitas dan menganggu stabilitas. Kali ini menimpa, Norwegian Wood, karya seorang penulis Jepang: Haruki Murakami. Dalam tweet the Guradian menyebutkan:
“for New Jersey teenagers after a rash of complaints from parents.”
Norwegian Wood dinilai bisa memberikan contoh tidak baik bagi para pembaca usia remaja karena dianggap menyarankan tindakan-tindakan yang asusila. Salah satu orang tua yang melayangkan protes menyebutkan bahwa,
“the intersection of parental values being offended, the hypersexualisation of our youth and the homosexual agenda being pushed. This just illustrates why a lot of American parents are not willing to entrust their children to the public schools any more“.
Dari konteks ini terlihat betapa sebuah karya fiksi, novel, dianggap membahayakan dan mengganggu suatu realitas sosial di masyarakat. Terlihat adanya suatu ketakutan akan efek dari suatu karya fiksi. Pertanyaannya adalah, mengapa karya fiksi bisa dianggap berbahaya? Bukankah karya itu hanyalah sebuah fiksi, yang bagi sebagian orang hanyalah sekedar “cerita” saja? Mengapa karya fiksi harus dikaitkan dan dibenturkan dengan suatu realitas sosial?
Pelarangan Norwegian Woods, sebenarnya adalah satu dari beberapa kasus pelarangan buku yang juga sering terjadi. Ada beberapa contoh kasus lain yang juga menimpa karya fiksi dan bahkan nasib si penulis karya itu.
Sebut saja misalnya Salman Rushdie. Penulis ini pernah dikenakan fatwa hukuman mati oleh Ayatollah Khomeini atas novelnya yang berjudul The Satanic Verses. Penulis dan bukunya dianggap menghina agama dan ajaran Islam. Akibatnya, Satanic Verses dilarang untuk diedarkan di beberapa negara muslim, termasuk di Indonesia. Bahkan, kepala Salman Rushdie dihargai jutaan dolar Amerika. Tapi, pernahkah (beranikah) anda membaca novel tersebut (sampai tamat -/+ 521 halaman)? Relvankah tuduhan-tuduhan yang dikenakan terhadap novel dan penulisnya?
Contoh lain misalnya 1984 (bila anda penonton setia reality show the big brother, anda perlu tahu bahwa konsep acara tersebut sangat terpengaruh oleh novel ini) dan Animal Farm; novel yang ditulis oleh George Orwell. Kedua novel ini bagi beberapa negara komunis seperti China, adalah buku yang dilarang untuk dibaca. Kenapa? Kedua novel ini dipandang bisa mengancam stabilitas dan doktrin negara.
Dari ketiga contoh kasus pelarangan buku di atas bisa terlihat bahwa pemaknaan terhadap suatu karya fiksi tidak bisa terlepas dari intervensi dan pengaruh konteks non-tekstual yang membingkai keberadaan dan pembacaan karya tersebut; ada suatu konteks ideologis yang membingkainya. Karena kuatnya unsur “ideologis” yang membingkai keberadaan, penerimaan, dan pembacaan, akhirnya, kita lupa untuk juga memperhatikan unsur tekstualitas dari karya itu sendiri; lupa untuk memandang bahwa karya itu hanyalah fiksi semata; lupa bahwa kejadian, latar, ataupun karakter di dalamnya hanyalah suatu rekaan belaka. Dan, hal ini pun semakin menguatkan bahwa karya fiksi tidak terlepas dari kepentingan ideologis. Baik itu kepentingan institusi: agama atau negara, misalnya; maupun ideologi si penulis itu sendiri (mengingat bahwa cerita tersebut adalah rekaan penulis: manusia yang juga tidak terlepas dari konteks-konteks ideologis) .
Lalu, dimanakah kepentingan kita sebagai pembaca? Aktifitas membaca yang seharusnya adalah aktifitas individual dan pribadi; aktifitas yang seharusnya memberikan kebebasan bagi kita untuk menafsirkan dan “mengalami” peristiwa, latar, dan “berdialog” dengan karakter di dalamnya, menjadi suatu aktifitas yang terkungkung oleh kepentingan ideologis dan politis institusi (agama ataupun negara). Lalu, dimanakah letak kebebasan kita sebagai manusia, bila dalam ranah fiksi pun doktrin-doktrin dan dogma ideologis masih juga mengungkung dan mendominasi kita? Bukankah membaca adalah suatu pembebasan dan kemeredekaan individu?
Namun, tentunya, pertanyaan-pertanyaan saya tidaklah relevan bagi anda yang memandang bahwa membaca novel adalah aktifitas yang tidak ada gunanya sama sekali. Karena mungkin bagi anda novel tidaklah menarik dan penting; dan buku pun tidak perlu disensor atau dibanned, karena tentunya tidak ada yang membaca. Mungkin ada baiknya melihat kedua clip di bawah ini:
0 Comments