Kesan yang pertama kali muncul di kepala saya tentang film India adalah film produksi Bolywood (Holywood India), berdurasi lama dengan soundtrack dan tarian India (yang bagi saya terdengar bising dan membosankan) di setiap adegan, karakter polisi gendut berkumis ‘baplang’ yang korup, dan dibubuhi romansa percintaan Romeo and Juliet. Melalui representasi tersebut, seolah-olah, India diidentifikasikan sebagai realitas budaya yang ‘eksotis’, ramai dengan hingar-bingar bunyi, ataupun korup. Namun, lain halnya representasi India yang disuguhkan dalam film The Guru. Film produksi Holywood (Bolywood Amerika) ini menampilkan representasi India yang berbeda dari sterotip-sterotip Bolywood. India direpresentasikan sebagai India yang hibrid dan diaspora; India yang berbeda dari stereotip tentang ‘identitas budaya India’. Namun, film ini tidak hanya menyoroti presepsi dan konstruksi stereotip terhadap India. Konstruksi-konstruksi stereotip terhadap identitas budaya Amerika pun dinegasikan dan didekonstruksi.
Identitas India, juga identitas Amerika, dalam The Guru dinarasikan sebagai identitas yang “not as transparent or unprobelmatic as we think” melainkan sebagai identitas yang “never complete, always in process, and always constituted within, not outside, representation” (Hall 222). Ketidakajegan identitas yang dimaksud oleh Hall inilah yang direpresentasikan dalam ‘narasi’ The Guru. Setereotip-seterotip identitas yang dimunculkan pada awal-awal narasi The Guru, seiring dengan jalannya alur cerita mengalami pendekonstruksian sehingga batasan-batasan identitas antara (menjadi) India dan (menjadi) Amerika yang dipresepsikan sebagai sesuatu yang utuh dan jelas dipresentasikan menjadi identitas yang tercampur, hibrid, dan, mengutip istilah Bhabha, ambivalens dan ambigu.
Gambaran identitas yang tidak utuh ini disuguhkan ketika narasi The Guru mengambil latar Amerika. Di bagian ini, realitas Amerika digambarkan sebagai realitas yang berbeda dengan stereotip Amerika yang dipresepsikan . Amerika the representasikan sebagai “the beginning diaspora, of hybridity and difference…” (Hall 235). Representasi sterotip terhadap identitas budaya bukan lagi dimunculkan sebagai polarisasi dua kutub antara India dan Amerika. Mengutip pernyataan Hall, bukanlah suatu representasi identitas budaya “in terms of one, shared culture, a sort of collective ‘one true self’, hiding inside the many other, more superficial or artificially imposed ’selves’, which people with a shared history and ancestry hold in common” (223).
Dalam narasi The Guru, ketidakutuhan ini, terlihat dari munculnya karakter-karakter yang merepresentasikan identitas budaya yang berbeda-beda yang tidak bisa distereotipkan sebagai generalisasi identitas India ataupun Amerika, mengutip istilah Derrida, difference yang tidak bisa dioposisikan sebagai suatu biner hitam/putih akan tetapi lebih pada serangkaian difference yang deferring. Melalui pemunculan karakter-karakter tersebut, dalam narasi ini, India direpresentasikan sebagai India dengan polarisasi identitas India yang ‘oriental’, ekostis, dan spiritual; dengan India yang ‘modern,’ hybrid, dan diaspora. Sementara, Amerika direpresentasikan sebagai Amerika yang juga dengan polarisasi identitas Amerika yang White, Anglo-Saxon, dan Protestant; dengan Amerika yang multikultural.
Identitas budaya India yang ‘oriental’, ekostis, dan spiritual dimunculkan pada awal pembukaan film. Nyanyian dan tentunya tarian ‘Hindi’yang dilakonkan oleh karakter-karakter India membuka narasi. Kamera kemudian diarahkan pada deretan orang-orang India yang sedang menonton adegan nyayian dan tarian tersebut.
Awal narasi ini, seolah menunjukan pola film-film Bolywood yang sarat dengan tarian dan nyanyian India, yang dalam hal ini terlihat merepresentasikan India yang ‘orient’. Namun, stereotip Bolywood kemudian dikontraskan dengan adegan tarian dan nyayian versi Holywood sering dengan berpindahnya Ramu (karakter utama) dari studio film Bolywood ke studio film Holywood. Melalui kontras ini, narasi seolah ingin menghadirkan perbedaan antara (budaya) India dan Amerika; oposisi biner antara tradisional (Timur, India) dengan modern (Barat, Amerika).
Presepsi biner antara India/Amerika inilah yang kemudian direpresentasikan ke dalam karakter Ramu. Ramu dihadirkan sebagai karakter yang lebih memilih untuk berada dan menjadi, mengutip istilah pascakolonialisme, “one of them” atau dalam istilah Bhabha “being white”. Ramu digambarkan lebih memilih menjadi penari dan guru tari makarena dibandingkan tarian India; Ramu lebih mengetahui film dan artis Holywood dibandingkan Bolywood. Dan dia memilih untuk mengejar “The American Dreams” seperti halnya imigran India lainnya yang berada di Amerika.
Namun, narasi kemudian menghadirkan kontras dan oposisi yang lain. Realitas Amerika dihadirkan sebagai realitas yang berbeda dengan stereotip Amerika yang dipresepsikan Ramu: Mercedes Benz menjadi Taxi, Penthouse dan Business Empire menjadi restoran India, dan Pengusaha yang berhasil menjadi buruh migran. Amerika yang utuh menjadi Amerika sebagai “the beginning diaspora, of hybridity and difference…”. American Dream yang diprespsikan Ramu, menjadi American Dream yang, mengutip pernyataan salah satu karakter The Guru: Vijay, “only happens when you sleep”.
Dalam adegan-adegan berlatar Amerika inilah, representasi identitas beserta sterotip yang menyertai dimunculkan, dikontraskan, dan kemudian dinegasikan. Raul, yang pada awal narasi digambarkan sebagai karakter yang berusaha menjadi “white”, berhadapan dengan sterotip-stereotip yang mengidentifikasikan ‘dirinya’ sebagai India yang ‘Timur’ atau ‘lian’. Bila dilihat dari sudut pandang, pengidentifikasian identitas India dalam narasi ini, terlihat ada dua sudut pandang. Pertama presepsi bahwa India adalah Timur , eksotis, dan spiritual dan kedua adalah prespsi bahwa India adalah hibrid dan diaspora. Sudut pandang yang pertama direpresentasikan oleh sterotip-sterotip dari karakter white-American terhadap karakter-karakter India. Dan yang kedua direpresentasikan oleh presepsi karakter India (migran) terhadap diri dan Indianya. Perbedaan-perbedaan prespsi ini muncul di dalam adegan-adegan The Guru.
Adegan di restoran sebagai salah satu contoh dimana presepsi ini muncul. Salah satu karakter White-American dalam adegan tersebut, komplen atas makanan yang diantarkan oleh Ramu. Karakter tersebut, merasa lebih menegtahui jenis makanan India dibandingkan Ramu yang orang India. Namun, komplen yang munculkan terlihat merepresentasikan struktur hirarkis antara white dan non-white, atau oposisi antara “white master”(dalam konteks ini yang memberitahu) dengan “the servant” (dalam konteks ini yang diberitahu). Oposisi ini terlihat dari mockery terhadap aksen Inggris-India dan ejekan “Skinny Brown ass”. Dan kemudian, Ramu, membalas ejekan tersebut dengan menggunakan American accent yang dalam konteks ini bisa dilihat sebagai cara Ramu untuk menunjukan bahwa diapun bisa dan fasih menggunakan bahasa Inggris, tidak seperti yang diprespsikan oleh the white man. Bila dikaitkan dengan representasi identitas Amerika, disini terlihat bahwa narasi The Guru memunculkan presepsi Amerika yang WASP (White, Anglo-Saxon, and Protestan)terhadap ‘lian’ .
Perbedaan prsesepsi ini terlihat begitu dominan dimunculkan di sepanjang narasi The Guru. Terlebih lagi ketika India dipresepsikan sebagai representasi dari spirituliatas dan ‘seks’. Dalam narasi ini, ‘seks’ dihadirkan sebagai penyembuh dari, infertility tandusnya spiritualisme budaya Amerika (The Wasteland). Seks dan penyembuhan spiritual dalam narasi ini diprespsikan hanya terdapat dalam ajaran-ajaran tantra Hindu yang diajarakan oleh para Guru Tantra. Dan dari presepsi inilah, Ramu didentifikasikan dan mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Guru. Dari sinilah konflik-konflik identitas semakin berkembang.
Seks dan spiritualisme yang dipahami oleh karakter-karakter white-American, ternyata bukanlah konsep yang dipahami oleh Ramu dan karakter India lainnya. Terlihat bagaiman narasi menunjukan bahwa karakter-karakter India ini justru lebih mengenal konsep seks yang pervert seperti yang ditonton di film-film porno produksi Amerika. Dalam salah satu adegan ditunjukan bahwa Kama Sutra yang dipandang sebagai ‘kitab suci seks’ oleh karakter-karakter white ternyata adalah buku yang belum pernah ‘benar-benar dibaca’ oleh Ramu dan Vijay.
Narasi kemudian menghadirkan ketidakstabilan pengidentifikasian identitas, polarisasi identitas, atau dengan kata lain narasi melakukan dekonstruksi terhadap sterotip-stereotip identitas. Ramu yang awalnya direpresentasikan sebagai sosok yang berusaha menjadi white, kemudian, harus ‘mengubah’ identitas dirinya sebagai sosok India yang spiritual sesuai dengan yang dipresepsikan oleh karakter-karakter white. Sehingga membuat Ramu menjadi ambigu, antara mengutip istilah Bhabha, “ being white but not quite”.
Ketidakstabilan juga terlihat, ketika karakter Amerika berusaha menjadi lebih spiritual dibandingkan stereotip sprititualnya India. Dan sebaliknya, karakter India menjadi lebih materialis dibandingkan stereotip Amerika yang materialis. Satu kutipan yang menarik mengenai pergeseran stereotip ini terlihat dari percakapan antara Lexi (karakter perempuan kulit putih) dengan Vijay (Karakter laki-laki India). Dalam percakapan itu, Lexi berkata “I’m sick of your materialism”, dan kemudian Vijay membalasnya dengan mengucapkan “I ‘m sick of your fucking scented oils, you smell like Bombay hooker”.
Pertengakaran antara Lexi dan Vijay ini terlihat menjadi sangat absurd. Karena, keduanya, ketika mengejek satu sama lain, sebenarnya mereka juga mengejek ‘diri’ masing-masing. Lexi dalam konteks itu, merasa dirinya sebagai “one of them” nya India. Dia meliankan stereotip identitas materialis Amerika yang dalam konteks lain dipandang sebagai identitas budaya Amerika. Sementara, sebaliknya, Vijay, meliankan identitas yang melekat dalam stereotipnya sebagai orang India.
Sama halnya dengan stereotipe sebelumnya, stereotip tentang seks pun ditunjukan sebagai sesuatu yang tidak ajeg. Oposisi awal menunjukan perbedaan antara seks yang spiritual yang direperesantasikan ke dalam seks ajaran tantra (India) dan diwakili oleh sosok Guru (Ramu), dengan seks yang pervert yang direpresentasikan ke dalam film porno dan diwakili oleh sosok Porn Star (Sharonn). Namun, opisisi ini pun dinegasikan. Sharonn yang merupakan representasi dari seks yang pervert ternyata, adalah sumber dari segala konsep-konsep seks tantra yang diajarakan Ramu. Dan, narasipun memunculkan konsep spiritualisme seks yang lain dengan juga memunculkan konsep katetisme katolik yang direpresentasikan oleh karakter Dwain dan institusi katolik. Sama halnya dengan konsep seks tantra, konsep seks inipun tidak lepas dari penegasian. Dwain yang pada awalnya sebagai representasi katetisme ternyata adalah seorang Gay yang dalam konteks katetisme ataupun sudut pandang katolik merupakan suatu halyang dianggap sebagai pervert, atau bahkan dosa.
Polarisasi-polarisasi awal yang nampak beroposisi dalam struktur antara India/Spiritual/Tantra/Guru/Ramu dengan Amerika/material/ Filmporno/Porn Star/Sharonn menjadi tidak valid lagi. Karena, teks kemudian menyuguhkan set pesusun penanda yang lain: India yang materialis, Amerika yang spiritualis, Pornstar sebagai seks spiritual, ataupun katolik yang gay. Karena akhirnya narasi menyuguhkan karakter-karakter yang memiliki lebih dari satu konstruksi identitas yang satu sama lain saling berhubungan dan tumpang tindih. Yang apabila diidentifikasikan sebagai satu identitas budaya tertentu yang terlihat malah adanya suatu keambiguan.
Ketika Ramu diidentifikasikan memiliki satu identitas India yang utuh, dan asli, tentunya Ramu tidak akan masuk ke dalam identifikasi tersebut. Ataupun, ketika dia didentifikasikan sebagai bukan India, karakter Ramu pun tidak bisa dimasukan ke dalam konteks identitas Amerika yang murni dan utuh. Demikian pula dengan karakter-karakter Amerika. Sharonna terperangkap antara sosok Sharonna sebagai fantasi seksual dan Sharonna sebagai seorang perempuan memiliki “American Dream”. Sama halnya dengan Ramu yang juga terperangkap antara Ramu The Sex Guru dengan Ramu yang juga mengejar mimpi yang sama; American Dream. Mungkin representasi identitas India atau pun Amerika yang terlihat adalah India yang Amerika dan Amerika yang India. Dan ditegaskan dengan akhir dari film, yang mengganti struktur tarian India dengan karakter-karakter white sebagai penarinya .
Dari representasi-representasi identitas yang dimunculkan dalam narasi The Guru, terlihat bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis tetapi merupakan suatu konstruksi-konstruksi representasi, seperti yang dikemukakan oleh Hall. Ketika identitas dipandang sebagai sesuatu yang statis, satu, dan utuh, yang terjadi adalah kesalahan presepsi terhadap suatu individu, kelompok, ataupun budaya tertentu. Melalui dekonstruksi dan negasi terhadap stereotip-stereotip identitas budaya, The Guru menawarkan suatu prespektif yang multikultural, atau dalam istilah Hall, prespektif identitas yang hibrid dan diaspora.
DAFTAR REFERENSI
Bhabha, Hommi K. The Location of Culture. London: Routledge, 1994. Print.
Eagleton, Terry. Literary Theory: An Introduction. 2nd ed. Blackwell, 1996. Print.
Hall, Stuart. “Cultural Identity and Diaspora.” Community, Culture, Difference. Ed. Rutherford, Jonathan. London: Lawrence&Wishart, 1990. 222-237. Print.
- Posted using BlogPress from my iPad
0 Comments