Membaca Lirik Lagu Si Raja Dangdut

Mari membaca lirik Bang Haji Rhoma Irama. Lirik lagu miliki Bang Haji ini lumayan menarik untuk dibaca ulang dan ditulis ulang. Seperti apa? Di bawah ini saya beri tautan ke lirik lagunya
Emansipasi
Wanita sekarang dalam perjuangan
Menyaingi pria di segala bidang
Di rumah, di kantor, bahkan sampai di dalam pemerintahan
Memang peranan wanita
Perlu di dalam pembangunan
Tetapi peranan wanita
Jangan sampai keterlaluan
Kalau peranan wanita
Melanggar batas dan fungsinya
Ini bencana
Wanita dan pria tak akan pernah sama
Secara nurani berbeda fungsinya
Badannya, jiwanya, tuhan telah mengatur pembidangannya
Reff :
Wanita ditakdirkan yang melahirkan
Bukankah ini bukti kelemahan
Wanita adalah ibu manusia
Janganlah bersikap seperti ayah
Lelaki adalah pemimpin wanita
Dalam tata kehidupan dunia
Begitulah ketetapan sang pencipta
Lalu kenapa kau coba merubahnya
Kalau aturan tuhan sudah dirubah-rubah
Pastikan kau dapatkan segala kepincangan
Bila kaum wanita memenuhi kantoran
Akhirnya banyak pria menjadi pengangguran
Wanita dan pria takkan pernah sama
Secara nurani berbeda pungsinya
Badannya, jiwanya, tuhan telah mengatur pembidangannya
Emansipasi wanita
Perlu di dalam pembangunan
Emansipasi wanita
Jangan sampai keterlaluan
Emansipasi wanita
Jangan melawan takdir tuhan
Ini bencana
Majulah wanita tiada bergetar
Namun jangan lupa tugasmu utama
Apapun dirimu tetaplah engkau
Adalah ibu rumah tangga
Reff :
Wanita laksana tiangnya Negara
Tanpa tiang coba anda bayangkan
Kalau semua maju ke garis depan
Tentunya lemah di garis belakang
Kalau wanita juga sibuk bekerja
Rumah tangga kehilangan ratunya
Kalau wanita juga sibuk bekerja
Anak-anak kehilangan ibunya
Kalau aturan tuhan
Sudah dirubah-rubah pasti kau dapatkan
Segala kepincangan
Bila kaum wanita memenuhi kantoran
Akhirnya banyak pria menjadi pengangguran
Bila dibaca sekilas, lirik lagu ini menunjukan “kritikan” Rhoma terhadap perubahan “peranan” dan “fungsi” perempuan sebagai akibat dari adanya emansipasi, kritikan yang sarat dengan nasihat-nasihat tentang bagaimana seharusnya perempuan berperan dan berfungsi. Hal inilah yang kemudian membuat lirik lagu ini cukup menggelitik untuk dibahas. Bila dilihat dari konsep-konsep kuasa dan seksualitas Foucault, lirik lagu ini banyak menunjukan representasi wacana dominan yang mendefinisikan dan menentukan identitas seksual perempuan beserta peran dan fungsinyaberdasarkan identitas seksual tersebut.
Konteks Kesejarahan Lagu Emansipasi Wanita
Lagu Emansipasi Wanita ini diciptakan dan diproduksi pada tahun 1983, tahun ketika Soeharto ‘terpilih’ kembali menjadi Presiden untuk ke empat kalinya. Dan salah satu wacana dominan pada era ini adalah wacana pembangunan yang biasanya dituangkan ke dalam REPELITA. Bila dikaitkan dengan dengan REPELITA, produksi lagu ini berada pada akhir REPELITA III yang berfokus pada pembangunan industri bidang industri padat karya untuk meningkatkan ekspor di segala bidang dan pada awal perencanaan REPELITA IV yang berfokus padapenciptaan lapangan kerja baru dan industri (http://id.wikipedia.org/wiki/Repelita).
Di tahun ini pula, muncul satu teks yang bisa dilihat berhubungan dengan perempuan, yaitu diterbitkan dan ditetapkannya Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 1983 yang mengatur izin perkawinan dan perceraian bagi pegawai negeri sipil. Di dalam beberapa pasal dan ayat peraturan tersebut, perempuan diprespsikandalam dua peran; perempuan sebagai pegawai/pekerja dan perempuan sebagai isteri. Bila dilihat dari struktur, Peraturan Pemerintah ini memprespsikan perempuan dalam struktur pemerintahan dan struktur keluarga.
Lagu ini bila dikaitkan dengan konteks sejarah di sekitar penciptaan dan produksinya terlihat berada dalam konfigurasi wacana peran perempuan dalam pembangunan; antara menjadi perempuan sebagai tenaga kerja yang berfungsi sebagai bagian dari pelaku pembangunan ekonomi bangsa atau sebagai ibu rumah tangga yang berfungsi sebagai pelaku pembangunan moralitas bangsa.
Rhoma Irama pada era ini, adalah Rhoma Irama si Raja Dangdut. Dalam identitasnya sebagai Raja Dangdut, Rhoma berada dalam posisi yang sangat populer sehingga peluangnya untuk “bersuara” dan didengarkan oleh audiens yang luas cukup besar. Lagu-lagu Rhoma Irama sering dihubungkan dengan dakwah ‘nilai-nilai’ ajaran Islam yang dipahami dan dinterpretasikannya. Secara ‘sadar’ Rhoma Irama memunculkan ini dalam semboyan yang diciptakannya; “Voice of Moslem” /suara muslim (http://id.wikipedia.org/wiki/Rhoma_Irama). Dari konteks ini, terlihat bahwa wacana agama dengan sengaja dinterpretasikan dan direpresentasikan ke dalam lagu-lagunya.
Analisis Teks LaguEmansipasi Wanita
Foucault dalam Histroy of Sexuality Volume I mengemukakan bahwa kuasa “acts by laying down the rule: power’s hold on sex is maintained through language, or rather through the act of discourse that creates, from the very fact that it is articulated, a rule of law” (83). Dari pernyataan ini, terlihat bahwa kuasa atas seks berhubungan dengan pengartikulasiannya di dalam maupun melalui bahasa. Berangkat dari pernyataan inilah, teks atau lirik lagu Emansispasi Wanita bisa dilihat sebagai bentuk pengaritikulasian kuasa atas seks, dalam konteks ini seksualitas perempuan, melalui teks dan representasi presepsi-presepsi Rhoma Irama, si Raja Dangdut, dalam memandang peranan dan fungsi perempuan.
Dalam kedua bait pertama, Rhoma menempatkan perempuan dalam wacana peranan perempuan dalam pembangunan dengan secara langsung memunculkan kata “peranan wanita perlu di dalam pembangunan”. Namun kemudian, Rhoma memunculkan batasan yang harus dipatuhi, karena bila “wanita melanggarkan batasan fungsinya ini bencana”. Dari sini terlihat, bagaimana teks yang dikonstruksinya seolah-olah menunjukan perempuan memiliki peran dan fungsi yang esensi, “fungsi kodrati”. Rhoma, mepresepsikan bahwa peran dan fungsi adalah hal yang esensial bukan sesuatu yang dikonstruksi. Rhoma memaknai peranan perempuan yang bukan “esensinya” ini dipandang sebagai sebuah persaingan atas ruang dan wilayah laki-laki.
Di bait ketiga, Rhoma mempertegas batasan antara perempuan dan pria dengan menghadirkan kata “fungsi kodrati”. Dengan memasukan wacana agama, Rhoma menekankan bahwa fungsi, jiwa, badannya perempuan dan laki-laki sudah ditentukan oleh Tuhan. Dari sini terlihat bahwa Rhoma berusaha menghadirkan pemilik kuasa yang tak terbantahkan, “Tuhan” untuk mendukung presepsinya terhadap peran dan fungsi perempuan; seolah-olah Tuhan pun tidak menghendaki persamaan atau yang diprespsikannya disini emansipasi antara laki-laki dengan perempuan.
Di bait keempat sampai keenam, Rhoma mengelaborasi alasan-alasan yang seolah-olah “alamiah” dan tak bisa diubah. Diantaranya dengan menghubungkan antara badan dan fungsi. Seolah-olah badan merupakan batasan yang jelas antara laki-laki dan perempuan dalam penentuan peran dan fungsi. Dengan badannya, perempuan berperan sebagai ibu yang berfungsi untuk melahirkan dan laki-laki berperan sebagai ayah yang berfungsi sebagai pemimpin.
Di bait-bait selanjutnya, kemudian Rhoma menunjukan sosok perempuan yang seharusnya dan alamiahnya. Menurut dia, peran perempuan sebaiknya menjadi “ibu rumah tangga”, “tiang negara” dan harus berada “di garis belakang”. Dengan kata lain, bagi Rhoma peran dan fungsi perempuan seharusnya berada di wilayah domestik. Peran perempuan dalam pembangunan dipresepsikan sebagai penjaga moralitas bangsa, yang seharusnya bisa mendidik dan menjaga keutuhan rumah tangga.
Kesimpulan
Dalam lirik lagu ini, Rhoma menempatkan perempuan dalam wacana peranan perempuan dalam pembangunan, dan menafsirkannya dari sudut pandang wacana agama sebagai pembenaran atas presespsi-presepsi patriarki yang melatarinya. Dengan menggunakan wacana agama, Rhoma seolah-olah mendapatkan kuasanya sebagai laki-laki yang harus “membina” dan “menasehati” perempuan, dengan menghadirkan aturan-aturan yang harus diikuti dan dipatuhi oleh perempuan. Emansipasi perempuan, dimaknai dan diinterpretasikan sebagai penyimpangan atas aturan ini, atau bila dikaitkan dengan wacana agama sebagai pelanggaran atas aturan Tuhan. Bila diperhatikan lagi, wacana agama ini hanya terlihat sebagai pembungkus wacana lainnya. Yaitu, wacana patriarki. Karena teks yang dikonstruksinya sangat menunjukan kekhawatiran akan berkurang dan menghilangnya kuasa laki-laki atas perempuan sebagai akibat dari hadirnya perempuan dalam ranah dan ruang laki-laki. Hal ini terlihat dari pilihan kata “menyaingi”, “bencana”, dan terlebih lagi kata “banyak pria menjadi pengangguran”. Jadi sebenarnya terlihat bahwa wacana yang mendasari teks Rhoma Irama ini adalah wacana patriarki.
Dan lagu ini nampaknya akan lebih menarik lagi ketika misalnya diperdengarkan di suatu konser dangdut, ditonton oleh banyak orang, dan diringi oleh joget-jogetan. Mungkin akan menjadi pemaknaan yang sangat menarik.
- Posted using BlogPress from my iPad
By: sunman @hypereal|January 6, 2011|Categories: KISAH . REVIEW|
3 Comments